Translate

Friday, September 2, 2011

MISIL ANTI KAPAL PERANG INDONESIA: PERKEMBANGAN BARU KEMAMPUAN TEKNOLOGI MARITIM


Pada tanggal 20 April 2011, Kapal Perang Angkatan Laut Indonesia tipe frigate, KRI  Oswald Siahaan melakukan tes penembakan rudal anti kapal perang supersonik Yakhont buatan Rusia dalam latihan rutin AL di Samudera Hindia. Menurut pernyataan resmi AL, misil tersebut mampu menempuh jarak 250 km dalam waktu 6 menit untuk menghancurkan target yang ditentukan secara langsung. Tes tersebut menandakan era baru terobosan kemampuan kekuatan militer maritim di wilayah Asia Tenggara.  Hal tersebut untuk merespon berbagai perselisihan kelautan dan menandai kompetisi persenjataan maritim regional yang sedang berkembang dewasa ini.                                                                      

Destabilisasi Persenjataan Maritim?

 
Menurut David Mussington dan John Silsin dalam laporan tahunan Jane tahun 1995, teknologi persenjataan yang mampu menggangu stabilitas suatu wilayah, memiliki 6 karakteristik: menghasilkan penurunan waktu kewaspadaan, memberikan suatu negara “kemampuan pemecahan”; memperluas pengaturan  jangkauan target; tidak memberikan strategi-strategi antisipatif secara efektif; memberikan informasi yang lebih baik kepada pihak lain terkait kemampuan-kemampuan  persiapan  militer di antara pihak-pihak tersebut; dan menciptakan perselisihan. Berdasarkan sejumlah kriteria tersebut, Yakhont dapat dikategorikan dapat mengganggu stabilitas kawasan seperti yang dijelaskan di atas.

Pertama, Yakhont dapat menempuh kecepatan peluncuran laut (5-15 meter di atas permukaan) 2,5 kali kecepatan suara, oleh karena itu dapat mengurangi waktu kewaspadaan dari kapal perang yang ditargetkan, khususnya mampu menghancurkan sitem peringatan dini jarak jauh. Fakta bahwa kemampuan persenjataan maritime negara-negara Asia Tenggara meningkat lebih baik,   dilengkapi  dengan sensor modern yang memberikan peringatan dini dengan peluncur misil pada masa yang akan datang dan dapat melacak keberadaan misil subsonik yang meluncur di permukaan laut. Pengenalan  profil keunggulan Yakhont yang diluncurkan dengan kemampuan deteksi teknologi yang sangat canggih harus didapat oleh angkatan-angkatan laut regional.

Kedua, bahkan sebelumnya Vietnam dilaporkan telah menggunakan Yakhont, penggunaannya di tanam sebagai “benteng” dalam pertahanan pantai dan oleh karenanya bertujuan defensif. Walaupun demikian, ketika diarahkan menjulang ke arah kapal perang, pada intinya peluncuran tinggi, jarak tempuh Yakhont dapat diperluas di bawah garis pertahanan diantara perbatasan-perbatasan pantai. Sebelumnya, pengenalan peluncur kapal Yakhont, misil anti kapal perang-seperti buatan Barat Exocet dan Harpoon demikian juga buatan Rusia yang sedang dibangun Styx dan Switchblade-yang dipasang di atas kapal-kapal perang negara-negara Asia Tenggara dikategorikan berkecepatan subsonik dan menempuh jarak tidak lebih dari 200 km pada umumnya.
Sebaliknya, Yakhont memiliki jarak tempuh maksimal 300 km ketika terbang di atas permukaan air dan memiliki kecepatan maksimum 2,5 Mach. Hanya ada dua negara non Asia Tenggara di daratan Asia Pasifik yang memiliki kemampuan setara, yakni Cina yang memiliki penghancur buatan Rusia Sovremennny yang dipersenjatai dengan misil Sunburn dan Taiwan yang baru-baru ini yang menempatkan Hsiung Feng III di dalam kapal-kapal perangnya.
Ketiga, profil Yakhont juga tidak memberikan strategi-startegi antisipatif yang efektif pada umumnya teknologi militer maritim negara-negara Asia Tenggara. Hanya beberapa negara-negara di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand yang memiliki kemampuan teknologi  misil-misil anti kapal perang (AMM). Malaysia memiliki 2 kapal perang tipe frigate yang dipersejatai dengan  Seawolf AMM dan 4 kapal perang korvet yang memiliki Aspide, sementara Singapura memiliki 6 kapal perang frigate yang dipersejatai dengan Aster AMM dan 6 kapal perang korvet dengan Barak-1.  Thailand memiliki 2 kapal perang frigate yang dilengkapi dengan sistem Sea Sparrow dan 2 kapal perang korvet dengan Aspide.
Sementara negara-negara Asia Tenggara lainnya dianggap sangat sedikit dilengkapi dengan kemampuan pertahanan udara. Sebagian besar kapal-kapal perang permukaan di kawasan ini hanya dipersejatai dengan senapan mesin dan misil darat-udara yang hanya efektif jika melawan target-target rendah pada jarak yang dekat tetapi tidak termasuk misil dan pesawat tempur dengan kualitas terbaik.

Apa yang terjadi selanjutnya di kawasan Asia Tenggara?

Apa yang dilakukan AL Indonesia tersebut, terjadi setelah pertarungan pengembangan kapal selam di kawasan ini baru-baru ini dan pengenalan terobosan kemampuan-kemampuan militer maritim. Malaysia memperkenalkan pertama kali misil anti kapal perang yang diluncurkan dari bawah laut pada kapal selam tipe Scorpone sementara Singapura memperkenalkan sepasang bekas kapal selam Swedia, Vatergotland dengan tenaga pendorong udara tunggal yang memperpanjang daya tahan kapal selam selama menyelam.  Dalam kasus tersebut, terlihat jelas  bagaimana upaya-upaya responsif di antara angkatan-angkatan laut negara-negara Asia Tenggara.
Yakhont, dengan kemampuan-kemampuan superioritasnya menggungguli keberadaan misil-misil yang mempersenjatai kapal-kapal perang negara-negara Asia Tenggara, merepresentasikan terobosan regional baru yang tidak dapat disepelehkan.  Hal tersebut terjadi demikian, ketika tidak ada angkatan-angkatan laut regional yang dilengkapi dengan sistem persenjataan yang cukup jika terjadi pertempuran laut di region yang mudah bergesekan dalam perselisihan-perselisihan laut berkepanjangan.  Angkatan laut Indonesia-Malaysia tetap berpendirian masing-masing dalam perselisihan  di wilayah Ambalat pada 2009, disoroti terkait peristiwa-peristiwa bahaya yang bisa  terjadi pada masa yang akan datang.
Kemungkinan reaksi-reaksi yang muncul dari negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara ke depan mengenai Yakhont dapat dilihat dari beberapa bentuk, khususnya bahwa sekarang negara-negara di berbagai kawasan sedang melakukan pemulihan dari resesi ekonomi global dan sedang membangun kembali modernisasi program-program kekuatan angkatan laut.  Satu, hal tersebut menandai penambahan kekuatan yang berusaha menyamai kemampuan militer tersebut yang mungkin sulit pada saat sekarang di pasar persenjataan global. Sementara pasar misil anti kapal perang masih didominasi oleh sistem subsonic, sangat sedikit contoh  sistem supersonic yang dijual, seperti Russia Klub-series atau Sunburn, dan Rusia-India Brahmos. India dilaporkan pada awalnya menangguhkan ekspor BrahMos (berdasarkan Yakhont) ke Indonesia diluar terkait masalah keamanan Indonesia tetapi Jakarta mengatur sedemikian rupa dengan mengesampingkan hal tersebut secara langsung dengan memperoleh buatan asli Rusia tersebut.

Mengurangi “Efek Yakhont”

Apapun reaksi yang muncul, proses aksi-reaksi yang dapat membendung misil Yankhont yang akan meningkatkan intensitas persaingan sistem persenjataan angkatan laut regional dewasa ini. Yakhont dapat berpotensi mengganggu “balance of power “ kawasan Asia Tenggara, sekalipun Indonesia dilaporkan hanya memperoleh pengiriman sedikit misil dengan penempatan terbatas di atas kapal-kapal perang frigate TNI AL.

Kawasan tersebut memiliki kebutuhan untuk melembagakan upaya-upaya pembentukan kepercayaan bersama angkatan-angkatan laut kawasan untuk mencegah atau mengurangi insiden-insiden di wilayah laut. Tetapi mungkin saat ini negara-negara Asia Tenggara harus memikirkan mekanisme pengendalian sistem persenjataan angkatan laut untuk mendorong transparansi dan membantu menjamin bahwa perolehan sistem persenjataan maritime tidak tersebar di luar kendali.[1]



Koh Swee Lean Collin associate research fellow pada Institut Pertahanan dan Studi Strategis, Program Studi Militer , S. Rajaratman School of International Studies (RSIS) Universitas Nanyang Technologi. Beliau juga melakukan riset doktoral mengenai Perkembangan Angkatan Laut Asia Tenggara.


Yogyakarta, 2 September 2011.



[1] Artikel asli berjudul Indonesia’s Anti-ship Missiles: New Development in Naval Capabilities, lebih lanjut lihat http//rsis.edu.sg/publications/workingpapers/Indonesia’s Anti-ship Missiles: New Development in Naval Capabilities

No comments:

Post a Comment

Post a Comment